Selalu Ingat kepada Allah*)
Sebagai hamba (abdi), manusia membutuhkan pertolongan
Allah. Menyadari jatah hidup di dunia hanya sedikit atau sebentar – orang jawa
bilang “urip kuwi mampir ngombe” –, maka sudah semestinya kita sebagai manusia
bersandar dan bertawakal kepada-Nya. Berupaya terus tak pernah henti untuk
bersungguh-sungguh dalam beragama.
Ingat kepada Allah, senantiasa harus dikondisikan serta
dijaga. Caranya dengan bersikap jujur dalam hati kemudian diekspresikan dalam
perbuatan sehari-hari sehingga nilai-nilai keinsanan tidak tereliminasi.
Menanamkan keyakinan dalam hati tentang dzat Allah, padahal tidak kasat mata
tapi berwujud. Kemudian perbanyak dzikir hingga meresap ke dalam dada dan hati
sanubari, serta ingat mati.
Kita hidup di alam fana ini sudah seyogianya berjalan pada
nilai-nilai kebaikan (khoir). Jika
konsisten di jalur ini berarti memelihara serta menjaga alam islam (keselamatan)
yang didasari alam iman. Perilaku tersebut sekaligus untuk membedakan mana yang
baik dan mana yang buruk, mana yang boleh mana yang tidak di tengah alam dunia
yang rusak ini. Kehidupan dunia kini membentangkan sesuatu yang baik dan buruk terasa
sulit dibedakan, hitam bisa terlihat putih dan putih bisa direkayasa menjadi
hitam.
Perilaku lain adalah meminimalisasi berbuat dosa. Hakikat dosa
itu menempel pada kita sebagai manusia, dan kita tak bisa terbebas darinya.
Maka, upaya yang logis adalah sesedikit mungkin berbuat dosa. Mengacu pada
ajaran dan akhlak Nabi Muhammad yang benar-benar bagus, serta sebisa mungkin
mendekat kepada Allah (taqorrub illallah).
Kalau Allah sudah memberi anugerah pertolongan, maka bisa dirasakan melalui
nilai-nilai insani yang ada di dada.
Menjaga dzikir dan wirid dengan sungguh-sungguh selayaknya
dibiasakan sebagai perwujudan pengutamaan urusan akhirat (batiniah) ketimbang
urusan dunia (lahiriah). Dalam aspek aturan kehidupan sehari-hari yang kerap
berbenturan atau tumpang tindih dengan ajaran Nabi, itu menjadi “pekerjaan
rumah” tersendiri untuk disikapi sebijak mungkin meski terasa berat.
Derajat ingat (kepada Allah) diwujudkan dalam pelaksanaan
sholat. Sebuah ibadah ekspresi menyerahkan diri menyembah kepada Allah,
sekaligus pengakuan banyaknya dosa. Penyerahan diri yang didahului dengan
berwudhu. Disunahkan ber-iftitah
dalam sholat, sebab di situ termuat nilai penyerahan diri yang luar biasa. Lalu
membaca fatihah dengan sebisa mungkin memahami maknanya. Sampai tahap ini saja,
pada hakikatnya terbukalah sudah jalan dunia-akhirat. Ingatlah untuk membaca fatihah dengan baik dan benar. Kelak saat bangkit dari kubur, fatihah ini
menjadi penolong atau syafaat.
Menolong orang yang belum tahu tentang ilmu sholat, belum
bisa membaca fatihah, sungguh mulia sebagai perwujudan amar ma’ruf nahi mungkar. Ilmu sholat merupakan ilmu yang bersifat bashariyah atau dapat diindra dengan
mata, dan ini membutuhkan tindakan. Jadi, perlu tindakan menjemput ilmu bashariyah tersebut. Menjemputnya dengan
cara mengaji kepada ustadz atau guru yang mengerti atau menguasai ilmu
tersebut. Persoalan cocok tidaknya dengan seorang ustadz atau guru, itu bersifat
relatif. Jika cocok, teruskan saja. Jika tidak cocok, tinggalkan tanpa manuver menjelek-jelekkan.
*) disarikan dari Ngaji Ahad Pagi, 28 Juli
2019 di Masjid Baitul Istighfar, Ngaliyan-Semarang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar