Selasa, 10 September 2019

Selalu Ingat kepada Allah*)


Sebagai hamba (abdi), manusia membutuhkan pertolongan Allah. Menyadari jatah hidup di dunia hanya sedikit atau sebentar – orang jawa bilang “urip kuwi mampir ngombe” –, maka  sudah semestinya kita sebagai manusia bersandar dan bertawakal kepada-Nya. Berupaya terus tak pernah henti untuk bersungguh-sungguh dalam beragama.

Ingat kepada Allah, senantiasa harus dikondisikan serta dijaga. Caranya dengan bersikap jujur dalam hati kemudian diekspresikan dalam perbuatan sehari-hari sehingga nilai-nilai keinsanan tidak tereliminasi. Menanamkan keyakinan dalam hati tentang dzat Allah, padahal tidak kasat mata tapi berwujud. Kemudian perbanyak dzikir hingga meresap ke dalam dada dan hati sanubari, serta ingat mati.



Kita hidup di alam fana ini sudah seyogianya berjalan pada nilai-nilai kebaikan (khoir). Jika konsisten di jalur ini berarti memelihara serta menjaga alam islam (keselamatan) yang didasari alam iman. Perilaku tersebut sekaligus untuk membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang boleh mana yang tidak di tengah alam dunia yang rusak ini. Kehidupan dunia kini membentangkan sesuatu yang baik dan buruk terasa sulit dibedakan, hitam bisa terlihat putih dan putih bisa direkayasa menjadi hitam.

Perilaku lain adalah meminimalisasi berbuat dosa. Hakikat dosa itu menempel pada kita sebagai manusia, dan kita tak bisa terbebas darinya. Maka, upaya yang logis adalah sesedikit mungkin berbuat dosa. Mengacu pada ajaran dan akhlak Nabi Muhammad yang benar-benar bagus, serta sebisa mungkin mendekat kepada Allah (taqorrub illallah). Kalau Allah sudah memberi anugerah pertolongan, maka bisa dirasakan melalui nilai-nilai insani yang ada di dada.

Menjaga dzikir dan wirid dengan sungguh-sungguh selayaknya dibiasakan sebagai perwujudan pengutamaan urusan akhirat (batiniah) ketimbang urusan dunia (lahiriah). Dalam aspek aturan kehidupan sehari-hari yang kerap berbenturan atau tumpang tindih dengan ajaran Nabi, itu menjadi “pekerjaan rumah” tersendiri untuk disikapi sebijak mungkin meski terasa berat.

Derajat ingat (kepada Allah) diwujudkan dalam pelaksanaan sholat. Sebuah ibadah ekspresi menyerahkan diri menyembah kepada Allah, sekaligus pengakuan banyaknya dosa. Penyerahan diri yang didahului dengan berwudhu. Disunahkan ber-iftitah dalam sholat, sebab di situ termuat nilai penyerahan diri yang luar biasa. Lalu membaca fatihah dengan sebisa mungkin memahami maknanya. Sampai tahap ini saja, pada hakikatnya terbukalah sudah jalan dunia-akhirat. Ingatlah untuk membaca fatihah dengan baik dan benar. Kelak saat bangkit dari kubur, fatihah ini menjadi penolong atau syafaat.

Menolong orang yang belum tahu tentang ilmu sholat, belum bisa membaca fatihah, sungguh mulia sebagai perwujudan amar ma’ruf nahi mungkar. Ilmu sholat merupakan ilmu yang bersifat bashariyah atau dapat diindra dengan mata, dan ini membutuhkan tindakan. Jadi, perlu tindakan menjemput ilmu bashariyah tersebut. Menjemputnya dengan cara mengaji kepada ustadz atau guru yang mengerti atau menguasai ilmu tersebut. Persoalan cocok tidaknya dengan seorang ustadz atau guru, itu bersifat relatif. Jika cocok, teruskan saja. Jika tidak cocok, tinggalkan tanpa manuver menjelek-jelekkan.

*) disarikan dari Ngaji Ahad Pagi, 28 Juli 2019 di Masjid Baitul Istighfar, Ngaliyan-Semarang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar