Jumat, 12 Juli 2024

Wonge Dhewe 
Imron Samsuharto (Tempo, edisi 5-11 Februari 2024) 




     Ungkapan dalam bahasa Jawa strata ngoko, wonge dhewe, mencuat kembali bersamaan dengan ingar-bingar politik menjelang Pemilihan Umum 2024. Wonge dhewe, yang biasa pula dilafalkan wonge dhewek, berarti “orangnya sendiri”, “bukan orang lain”, alias “saudara” yang dianggap dekat secara sosiologis, kekerabatan, atau asal daerah. Ini kira-kira semakna dengan wong kito galo dalam bahasa Palembang dan urang awak dalam bahasa Minang. 

     Para calon legislator memajang kata wonge dhewe di baliho-balihonya yang dipasang di daerah pemilihannya. Tujuan bahasa politik ini jelas, yakni mereka ingin membangun jalinan sosiologis dengan khalayak di wilayah itu dengan harapan masyarakat setempat menganggap mereka sebagai saudara sendiri dan memberi dukungan. 

    Sebutan wonge dhewe berasal dari kata wong atau orang dan dhewe atau sendiri. Kata wong mendapat panambang (akhiran) -e berubah menjadi wonge yang bermakna “orangnya”. Fungsi wuwuhan (imbuhan) -e itu adalah kata ganti milik (posesif). Imbuhan -e dalam bahasa Jawa semakna dengan akhiran -nya dalam bahasa Indonesia. Bandingkan omahe, bapake, pikire dalam bahasa Jawa yang jika diindonesiakan menjadi rumahnya, bapaknya, pikirnya. Hanya, imbuhan -e berubah menjadi -ne jika kata asal atau kata dasarnya bersuku akhir terbuka, seperti ibune, bukune, sepatune yang dibentuk dari ibu+ne, buku+ne, sepatu+ne. Kata ibune, bukune, sepatune masing-masing berarti ibunya, bukunya, sepatunya. 

     Istilah wonge dhewe marak digunakan calon legislator Dewan Perwakilan Rakyat; dewan perwakilan rakyat daerah tingkat provinsi, kota, dan kabupaten; serta Dewan Perwakilan Daerah. Uniknya, di ranah pemilihan calon presiden dan calon wakil presiden, tak lazim muncul istilah wonge dhewe. Hal ini tampaknya terjadi karena pemilihan calon presiden mencakup keseluruhan wilayah Indonesia, tidak seperti pemilihan calon legislator yang mengacu pada daerah pemilihan tertentu. 

    Pemanfaatan istilah wonge dhewe dalam kampanye calon legislator ini tak lepas dari upaya pencitraan mereka. Murdiyanto lewat artikel “Citraan Bahasa Indonesia dalam Kampanye Politik” dalam Prosiding Seminar Nasional Bahasa dan Sastra Indonesia dalam Konteks Global pada 2017 mengemukakan bahwa pencitraan tidak selalu menghasilkan opini publik yang sesuai dengan apa yang diharapkan oleh pelaku pencitraan. Menurut Murdiyanto, bahasa citraan itu dapat ditemukan antara lain pada level leksikal dan gramatikal. Pada level leksikal, “bentuknya dapat berupa pencitraan lewat klasifikasi leksikal, leksikal yang diperjuangkan, leksikal yang memarginalkan orang lain, leksikal bernuansa kedaerahan, metafora, dan relasi makna”. Penggunaan wonge dhewe dalam kampanye calon legislator termasuk pencitraan pada level leksikal bernuansa kedaerahan. Pada level ini, bahasa yang digunakan dapat berupa leksem bahasa daerah seperti wareg alias kenyang atau leksem bahasa Indonesia yang mereferensi ke daerah atau kelompok etnis tertentu, seperti blusukan. 

    Penggunaan leksem tersebut punya nilai ideologis tertentu, yakni calon legislator berusaha menyentuh sentimen etnisitas dan lokal pemilih. Sang calon ingin menunjukkan latar belakang kultural atau lokal yang sama dengan pemilih. Ia berniat mengeksplorasi diri melalui pilihan leksikal bahasa daerah guna menarik dukungan dan meraup suara pemilih. Padahal, seusai pemilihan umum, calon yang terpilih ataupun yang gagal umumnya lupa terhadap makna dan hakikat yang dikandung istilah wonge dhewe.

Jumat, 03 Februari 2023

 Aspek Sosio-estetis Lagu-lagu Sang Raja Dangdut


        Judul buku            :   Sang Raja Dangdut dalam Karya: Gaya, Estetika, Ideologi, dan Politik

                        Penulis                   :   Moh. Muzakka

                       Kata Pengantar      :   Rhoma Irama

                       Penerbit                  :   Pelataran Sastra Kaliwungu (PSK) Kendal, Jateng

                       Cetakan                  :    I, Februari 2022

                       Tebal                       :    vi + 166 halaman

                       ISBN                       :    978-623-5852-03-4    



Buku ini dibuka dengan ‘Kata Pengantar’ langsung dari Sang Raja Dangdut Rhoma Irama. Menurut Rhoma, buku berjudul Sang Raja Dangdut dalam Karya: Gaya, Estetika, Ideologi, dan Politik tulisan Moh Muzakka – dosen FIB Undip Semarang – ini menelaah beberapa buah lagu miliknya secara ilmiah dan mendalam. Sedikit beraroma hiperbolis, Rhoma merasa terharu sekaligus bersyukur kepada Allah Yang Maha Alim atas terbitnya buku tersebut.

Lirik lagu tak ubahnya sebuah puisi, memuat diksi indah yang terpilih. Ada luapan emosi atau ekspresi sang pencipta lirik dalam merespons berbagai persoalan yang terjadi di sekitarnya. Rhoma, sang seniman multitalenta, mengejawantahkan kesenimanannya melalui lagu dan film. Ribuan lagu diciptakannya, dan puluhan film telah dibintanginya.

Meskipun dikenal sebagai Raja Dangdut, substansi buku tentang lagu Rhoma ini tidak terjebak pada perdangdutan semata, melainkan juga meninjau sisi lain figur Rhoma sebagai bintang film (aktor), dai (pendakwah), politisi, dan pengusaha (entertainment). Maka, tidak heran sebutan multitalenta rasanya pas disematkan pada sosok Rhoma itu.

Rhoma eksis bermusik di jalur dangdut sejak 1970-an hingga sekarang bersama grup Soneta. Tema lagu yang diusung beragam mulai dari nasionalisme, kritik sosial, kemanusiaan, percintaan, hingga keagamaan. Penggemar atau fans yang mengidolakannya pun berjuta-juta jumlahnya.

Sebenarnya Rhoma Irama sangat berbakat dalam berbagai aliran musik terutama pop, rock, orkes Melayu, India, dan Arab. Semua jenis itu pernah dijalaninya dalam kariernya bermusik, bahkan hasilnya dapat dikatakan gemilang dan berprestasi baik. Namun, karier gemilangnya dikukuhkan dengan pendirian grup musik Orkes Melayu (OM) Soneta yang didirikannya pada 11 Desember 1970 (halaman 4-5).

 Pendekatan Stilistika        

           Pendekatan akademis yang dipakai Moh Muzaka untuk menelaah lirik lagu-lagu Rhoma adalah stilistika atau kajian yang fokus pada gaya bahasa dalam karya sastra. Artinya, lirik lagu yang jadi objek penelaahan itu dominan bernilai sastra. Lirik lagu sebagai puisi, popularitasnya sama dengan lagu yang dinyanyikan oleh penyanyi sehingga lirik lagu memiliki jangkauan yang lebih luas penyebarannya dan keberterimaannya dalam masyarakat dibanding puisi-puisi lainnya. Maka, penelitian terhadap lirik lagu berbahasa Indonesia dari aspek stilistika menjadi sangat penting dalam pengembangan bahasa Indonesia.

           Lagu “Citra Cinta” (1982), misalnya, mewakili periode awal karier Rhoma bermusik. Sedangkan dari periode akhir (2020) dipilih lirik lagu “Virus Corona”. Dari sana dapat ditelusur gaya bahasa sang pencipta dalam penulisan lirik lagu. Jadi, aspek gaya bahasa menjadi pijakan utama dalam penelitian lirik itu.

           Lirik lagu tergolong genre puisi sehingga dibangun sebagaimana unsur-unsur pembangun puisi, yakni unsur bunyi dan diksi yang membentuk larik-larik yang membangun wacana tertentu dengan tema dan amanat tertentu pula. Oleh karena itu, sebagai genre puisi, lirik lagu yang diciptakan pengarang tersebut sangat mempertimbangkan unsur-unsur tersebut dalam proses penciptaannya (halaman 23).

           Metode penelitian yang dipergunakan adalah library research (riset kepustakaan) secara murni tanpa penelitian lapangan seperti wawancara pada pencipta lirik. Teknik simak dan catat digunakan secara intens untuk mendukung metode guna mempermudah penganalisisan dengan pendekatan stilistika. Dengan demikian unsur bunyi, kata, frasa, dan kalimat dalam lirik lagu “Citra Cinta” dan “Virus Corona” itu bisa terdeteksi secara mendalam. Gaya bunyi, gaya kata, serta gaya kalimat dan wacana pun bisa terlihat nyata.

           Pembaca buku ini, terlebih jika ia memiliki rasa ketertarikan (penasaran) pada lagu “Citra Cinta” dan “Virus Corona”, akan menemukan penjabaran komprehensif mengenai substansi lirik lagu tersebut. Mulai dari aspek bunyi, kata, hingga kalimat (wacana). Pembaca juga akan menemukan kisi-kisi proses kreatif sang pencipta (penyanyi) dalam menelorkan lagu tadi. Demikianlah, pembaca bisa mendapatkan informasi lengkap lahirnya lagu itu. Pembaca tidak hanya mendendangkan atau menyenandungkan lagu tersebut, tetapi juga memahami pesan moral dan ruh yang dikandungnya.

 Sudut Pandang Estetika

           Bahasan dari sudut pandang estetika, dipilihlah lagu “Seni” (1987) dari periode/fase tengahan, dan “Buta Tuli” (1990-an) dari fase puncak karier Rhoma. Ada tiga aspek nilai dalam estetika, yakni aspek nilai keindahan (hiburan), nilai faidah (pendidikan), dan nilai kamal (spiritual).

           Sungguh puitis dan estetis performa lirik lagu “Seni” dan “Buta Tuli”. Perpaduan unsur asonansi, aliterasi, dan rima amat terasa sehingga memunculkan keindahan yang nyaris sempurna. Nilai faidah (pendidikan) memuat aspek moral berisi pesan pelajaran yang bermanfaat bagi pendengar lagu (lirik). Nilai spiritual yang merupakan aspek nilai tertinggi, juga terasa lekat, yang bisa saja bersumber atau merujuk pada ajaran keilahian.

           Lirik lagu Rhoma pun memuat nilai profetik, yang terdiri atas unsur humanisasi, liberasi, dan transendensi. Hal itu dicontohkan dalam lagu “Akhlak” (2019) dan “Virus Corona” (2020). Aspek akhlak atau pekerti yang baik, santun, beradab menjadi pesan yang kuat dan menonjol. Namun, ada juga aspek pencegahan atau penangkalan suatu perilaku yang terlarang. Di samping itu, terdapat unsur penghambaan (keimanan) kepada Tuhan.

           Aspek yang tak kalah menarik adalah pembahasan mengenai kegelisahan (kritik) Rhoma akan peran sosial perempuan. Nilai sosio-estetis menjadi keniscayaan. Itu terjabarkan pada lagu “Emansipasi Wanita” (1980-an) yang liriknya estetis, puitis, ekspresif, dan pragmatis. Secara kodrati, perempuan itu berbeda dengan laki-laki. Perempuan berhak diberi ruang sosial asalkan tidak kebablasan atau melampaui batas. Kalau ini dilanggar, sungguh terlalu!!

           Rhoma pun melontarkan kritik tajam kepada pemerintah. Itu tersurat pada lagu “Indonesia” (1980) yang ditohokkan pada penguasa. Antara lain tentang ketimpangan sosial si kaya dan si miskin, korupsi, tindakan memperkaya diri. Juga lagu “Hak Asasi”, “Rupiah”, “Mirasantika”, “Judi” yang diarahkan pada pelanggar norma.

           Dalam khazanah politik, Rhoma pernah bernaung pada PPP (Partai Persatuan Pembangunan) berlambang kakbah saat Pemilu 1977 dan 1982. Namun, di era pascareformasi haluan politiknya berpindah dan mendirikan Partai Idaman (Partai Islam Damai dan Aman), namun sayang sekali tidak lolos verifikasi KPU 2019.

 Peresensi : IMRON SAMSUHARTO, editor online lulusan FS (kini FIB) Undip Semarang

*) dimuat di harian JAWA POS edisi Sabtu, 3 September 2022, hlm 13

Selasa, 19 April 2022

BULAN SIYAM 

Imron Samsuharto* 

UMAT muslim seantero dunia kembali dihadapkan pada kewajiban ritual ibadah puasa selama sebulan di bulan Ramadan. Aktivitas yang justru bermakna tidak berbuat atau meninggalkan (pantang) di waktu siang (shubuh hingga maghrib) dari rutinitas makan-minum dan musabab pembatal puasa lainnya. Masa sebulan penuh digunakan umat muslim untuk mencuci batin, membersihkan dosa-dosa yang tercipta selama rentang sebelas bulan. Maka, Ramadan dinamai sebagai bulan ampunan (syahrul maghfirah).

     Bulan tersebut disebut pula sebagai bulan siyam. Siyam secara etimologis berasal dari kata bahasa Arab as-shiyam (akar kata shoma), yang berarti “menahan”. Terkait dengan ritual puasa, arti tersebut bersejajaran makna dengan kata imsak (Arab), yang juga berarti “menahan”. Sehingga selama Ramadan, kata imsak amat populer, yang secara istilah berarti menahan diri dari segala perkara yang membatalkan puasa, sejak fajar menyingsing hingga matahari terbenam. 

     Di samping itu, ada pula istilah shaum yang semakna dengan shiyam. Hanya saja, shaum lebih dalam maknanya dibanding shiyam, yakni tidak hanya menahan makan dan minum serta musabab lain yang membatalkan puasa, tetapi juga mencegah berbicara, mendengar, serta melihat hal-hal yang merusak ibadah puasa (perbuatan negatif). 

     Dari aspek peristilahan, shiyam/siyam (Arab) diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi “puasa”. Nyaris tak ditemui alias langka, muslim Indonesia ketika menjalani ibadah puasa Ramadan, mengatakan: “Saya ini sedang bersiyam” atau “Saya lagi melaksanakan ibadah siyam”. Galibnya adalah: “Saya ini sedang berpuasa” atau “Saya lagi melaksanakan ibadah puasa”. Jadi, pengguna bahasa Indonesia boleh dikata tidak mengenal kata shiyam/siyam tersebut. 

     Kasus kelangkaan atau nirperistiwa penggunaan kata siyam dalam bahasa Indonesia di atas, justru berkontradiksi dengan kasus dalam bahasa Jawa. Secara umum, bahasa Jawa mengenal strata kebahasaan atau tingkatan tuturan, mulai dari ngoko, krama madya (tengahan), hingga krama inggil. Kata shiyam/siyam dijawakan secara ngoko menjadi poso, sedangkan secara krama madya dan atau krama inggil dijawakan menjadi siyam. Proses penjawaan atau penerjemahan dari Arab ke Jawa tersebut dilakukan dengan penyerapan (pemungutan) bunyi secara utuh. 

     Demikianlah, dalam konteks komunikasi bahasa Jawa tengahan dan inggil, kerap ditemui ungkapan seperti: “Sampeyan/panjenengan siyam nopo boten?” (Kamu berpuasa apa tidak?) atau “Sugeng nglampahi ibadah siyam” (Selamat melaksanakan ibadah puasa). Dalam konteks komunikasi ngoko, tentu tak pernah ditemui kata/istilah siyam karena terganti dengan kata poso. Maka, lazim ditemui ungkapan seperti: “Kowe poso opo ora?” (Kamu berpuasa apa tidak?) atau “Aku nglakoni poso sewulan muput” (Saya menjalankan ibadah puasa sebulan penuh). 

     Seiring datangnya Ramadan, ramai bergaung ungkapan berbahasa Arab “Marhaban Syahru Ramadhan” atau “Marhaban Ya Ramadhan”. Jika diindonesiakan berubah menjadi “Selamat Datang Bulan Ramadan” atau “Selamat Datang Wahai Ramadan”, dijawakan (strata krama madya dan krama inggil) menjadi “Sugeng Rawuh Sasi Siyam”, dan jika di-ngoko-kan menjadi “Sugeng Rawuh Wulan Poso”. 

     Banyak sekali kata yang bersumber dari bahasa Arab diserap atau dipungut ke dalam bahasa Indonesia seperti majelis, hakim, mahkamah, kitab, zaman, mukmin, muslim, musyawarah, sejarah, berkah, salam, setan, hikmah, rahmat, hakikat, jahanam, dan sebagainya. Namun demikian, pemungutan dari Arab seperti kata siyam justru populer pada penutur bahasa Jawa, yang nota bene penutur terbesar dan terbanyak bahasa Indonesia. 

    Dalam percakapan konteks bahasa Indonesia, kata siyam tersebut tidak populer bahkan tak dikenal. Paling tidak ada tiga metode yang dipakai dalam penyerapan atau pemungutan kata asing ke dalam bahasa Indonesia termasuk juga ke dalam bahasa Jawa, yakni adopsi, adaptasi, dan penerjemahan.

     Adopsi berarti penyerapan dengan cara penuh atau apa adanya menurut asas fonologi (bunyi), 
seperti shiyam/siyam (Arab) dijawakan menjadi siyam. Adaptasi berarti penyerapan yang ejaannya disesuaikan, misalnya option (Inggris) diindonesiakan menjadi opsi. Sedangkan penerjemahan berarti mencari padanan yang tepat, seperti overlap (Inggris) menjadi tumpang tindih (Indonesia). 

     Pemungutan atau penyerapan kata asing dari Arab atau dari bahasa asing lain seperti Inggris, Perancis, Belanda ke dalam bahasa Indonesia berlangsung secara alamiah sesuai denyut interaksi sosial pergaulan bahasa. Pemungutan atau penyerapan tersebut membawa berkah atau hikmah memperkaya khazanah kosakata bahasa Indonesia.

 *) EDITOR ONLINE, LULUSAN FS (kini FIB) UNDIP SEMARANG

==> dimuat pada Majalah TEMPO, edisi 2 April 2022

Selasa, 15 Februari 2022

Kembali ke Alquran*

Oleh: Imron Samsuharto 

Penganut Islam atau umat muslim pastilah meyakini kitab suci Alquran. Di antara mereka, yang memiliki kitab suci (mushaf) boleh jadi hanya sebagian kecil alias tidak berbanding lurus dengan kuantitas umat. Kemudian, yang mumpuni membaca kitab suci itu dengan baik hingga hafal (hafiz) semakin kecil jumlahnya. Dan di antara yang bisa membaca Alquran, cuma sedikit orang yang paham tentang terjemah atau maknanya, serta tahu betul isi kandungannya. 

 Namun, paham akan terjemah dan makna Alquran itu bukanlah wajib ain. Kalau setiap muslim diwajibkan paham terjemah dan makna Alquran, betapa banyak muslim yang menanggung dosa karena meninggalkan wajib ain tersebut. Menjadi mafhum, di tengah kehidupan keberagamaan itu muslim yang paham benar mengenai terjemah dan makna Alquran (tafsir) termasuk kategori langka. Orang yang mampu membaca kitab suci tidaklah bisa dikatakan banyak. 

 Namun demikian, muslim yang sempurna dalam sisi keimanan, keislaman, dan keikhsanan menjadi performa yang lebih penting dibanding ukuran bisa tidaknya membaca kitab suci, atau mampu tidaknya memahami terjemah dan makna kitab suci tersebut. Bukan berarti membaca dan memahami terjemah kitab suci menjadi kurang penting. Muslim yang sadar akan keimanan, keislaman, dan keikhsanan dalam kehidupan keseharian seyogianya berperilaku sejalan dengan isi kandungan Aquran. Maka, fungsi Alquran sebagai petunjuk hidup dunia-akhirat, sebagai pembeda antara yang haq dan yang batil, bahkan sebagai obat keresahan dan kesulitan, menancap dalam dada muslim yang memelihara keimanan, keislaman, dan keikhsanan itu. Mereka bisa saja dari golongan yang fasih membaca Alquran serta paham akan terjemah dan maknanya, bisa pula golongan yang tak fasih bahkan tak bisa membaca Alquran sekalipun. 

 Dalam jiwa mereka hidup sirullah, sir Muhammad, dan sir wahyu. Mereka takut dan tunduk kepada Allah swt, dan diturunkanlah kepada mereka tentang obat dan rahmat. Obat dari segala keresahan, kesulitan, ketidakstabilan hidup, wabah penyakit, bencana, dan marabahaya lainnya, sekaligus dapat menolak siksa neraka yang pedih dan menyeramkan itu. Mereka senantiasa menjaga iman, islam, dan ikhsan. 

 Kelabakan 

Dalam rentang setahun lebih, banyak orang termasuk kaum muslim, dihadapkan pada fenomena yang luar biasa heboh akibat merebaknya Covid-19. Keresahan yang berlebihan dan tidak terkontrol sebagai dampak virus tersebut, sungguh telah membuktikan bahwa umat manusia kelabakan. Nyaris semua sektor kehidupan mulai dari kesehatan, perekonomian, pendidikan, transportasi, perhotelan, kepariwisataan, perindustrian, hingga keberagamaan (religiositas) tertampar dan terkapar oleh virus tersebut. 

 Jika direnungkan secara dalam, sehelai daun jatuh dari sebatang pohon pun tak luput dari takdir Allah swt. Bandingkan helai daun tersebut dengan virus corona, yang sama-sama manifestasi takdir dari Sang Khalik. Daun yang melayang-layang jatuh dari pohon dapat dilihat dengan mata, sedangkan virus yang menyebar ke seantero jagat itu tak kasat mata. Kedua contoh peristiwa tersebut, pastilah ada yang mengatur. Dialah Yang Maha Kuasa atas bumi-langit dan seisinya, yang semestinya ditakuti. Alih-alih terjadi kesalahkaprahan, justru makhluk-Nya yang ditakuti. 

 Sebagai muslim yang menjaga keimanan, keislaman, dan keikhsanan seyogianya berpikir apa yang mesti dilakukan setelah upaya bersifat lahiriah dalam memerangi corona. Protokol kesehatan adalah upaya lahiriah. Sebagaimana dikampanyekan di mana-mana, bahwa orang yang positif terinfeksi harus dirawat intensif, orang dalam pemantauan (ODP) dan pasien dalam pengawasan (PDP) mesti diisolasi dari kehidupan sosial. Jika ini dilanggar, peluang penularan virus kian terbuka dan melebar. Umumnya orang takut akan ancaman corona itu. 

 Ketakutan yang melebihi porsi dapat memicu menurunnya daya imunitas tubuh. Ironisnya, dalam kehidupan keberagamaan, masyarakat muslim yang berada di zona hijau turut merasa takut berlebihan sebagaimana mereka yang ada di zona merah, sehingga tak lagi mendatangi masjid, tak mau mengikuti majelis taklim. Astaghfirullahal-adzim. Sejatinya imbauan untuk tak beribadah secara berjamaah di masjid, hanya untuk mereka yang betul-betul darurat zona merah, bukan pukul rata seperti itu. 

Menoleh Alquran 

Kini saatnya ber-muhasabah. Tolehlah kembali Alquran, itu penyikapan yang paling bijak. Baca, cermati, renungi, dan aplikasikan isi kandungannya. Gairahkan kembali taqorrub ilallah seraya memupuk rasa keimanan, keislaman, dan keikhsanan. Tak perlu berlama-lama terjebak dalam memerangi corona bersifat fisik semata. Jika hanya itu yang diupayakan, dikhawatirkan terpeleset dalam jurang kesombongan. Boleh jadi merebaknya corona tersebut merupakan pengingat kepada umat manusia yang berbangga-bangga dan suka menonjolkan kesombongan. Jadi, jangan anggap remeh upaya bersifat rohani atau batiniah itu. 

 Seberapa persen pun kadarnya, bencana corona yang merupakan ujian hidup umat manusia itu berpeluang menjadi azab yang pedih. Lihatlah India yang kasus coronanya tak terkendali. Imbas corona menerpa juga kaum muslim, karena ia tidak pilih-pilih menyasar berdasarkan agama maupun latar belakang lainnya seperti warna kulit, kebangsaan, strata sosial, pendidikan, umur, dan seterusnya. Hanya saja cara menyikapi berbeda-beda antara satu dan lainnya. Muslim terlebih yang senantiasa menjaga keimanan, keislaman, dan keikhsanan seyogianya menyikapi dengan cara khusus. 

 Ambil air wudhu dan bergegaslah salat taubat, menyadari banyak kealpaan yang telah diperbuat. Kurangi mengumbar nafsu duniawiah, diiringi banyak belajar ad-din agar memahami hakikat atau kesejatian hidup. Jaga ukhuwah islamiyah serta ukhuwah insaniyah dengan sebaik-baiknya. Tak perlu saling merecoki sesama makhluk Allah. Kemudian senantiasa menggunakan anugerah akal pikiran (al fikri) agar bisa menemukan kebenaran. Memohon dengan ikhlas dan sabar serta berserah diri (tawakal) dalam dzikir dan doa agar bencana corona segera musnah dari muka bumi. 

 Akhirnya, camkan dan renungkan ayat ke-54 Az-Zumar yang artinya: “Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).”

*) dipublish di  Panji Masyarakat : http://panjimasyarakat.com/2021/04/30/kembali-ke-alquran/

Senin, 24 Januari 2022

KLIK! TAK TIK! DOR! 

Imron Samsuharto* 

EKSPRESI, aktualisasi, atau eksplorasi suatu pesan atau pikiran bisa diwujudkan dalam bentuk kata yang sumber atau susur galurnya dari bunyi tertentu. Bunyi ini bisa diperoleh karena peristiwa benturan antarbenda, sentuhan jari atau pukulan tangan terhadap objek benda tertentu, jatuh atau bergesernya suatu benda, atau akibat perbuatan tertentu. Bunyi yang ditimbulkan tersebut bervariasi sesuai persifatan atau karakter peristiwa itu. 

     Kini sangat akrab dalam kehidupan keseharian tentang kata: klik. Kata ini mewujud karena bunyi “klik!” yang bersumber dari sentuhan ujung telunjuk pada salah satu perangkat keras komputer atau laptop yang bernama tetikus. Setiap kali ujung telunjuk menyentuh dan menekan tetikus tersebut, terdengarlah bunyi halus: “klik!”. Sejatinya, tiruan bunyi seperti itu pernah populer sebelum era daring sekarang ini. Saat itu “klik!” kerap terdengar ketika seseorang mengoperasikan kamera konvensional dan membidik sebuah objek lalu ujung telunjuknya menekan tombol tertentu. Itulah sebagian proses pembentukan gambar foto yang memakan waktu lama. Perkembangan terkini, dengan fitur kamera yang menyatu pada ponsel android, foto bisa dilihat hasilnya seketika “ndak pake lama” dengan satu klik sentuhan. 

     Namun, ternyata kata klik bisa pula dipergunakan untuk memaknai suatu denyut hubungan atau tautan pemikiran atau perasaan seseorang pada orang lain. Jika misalnya pemikiran, perasaan, atau gagasan Si Budi direspons positif oleh Si Suli, maka bisa dikatakan bahwa terjadi klik antara Si Budi dan Si Suli tersebut. Sebutan populernya terdapat chemistry di antara keduanya. Dalam Kamus Inggris-Indonesia John M. Echols dan Hassan Shadily, chemistry berarti ilmu kimia (Ct. XXV, 2000:110). Secara semantis, chemistry yang bersejajaran makna dengan klik, mengandung arti interaksi atau hubungan antarindividu sehingga terasa nyaman dan cocok. Kesesuaian yang nyaman itu dilatarbelakangi sebuah proses secara kimiawi di dalam sel otak yang turut mengendalikan sifat hubungan tersebut sehingga terjadi ketersambungan. Pusat penggeraknya ada di otak. Secara emotik, chemistry terjalin karena di antara kedua belah pihak ada kesamaan berbagai hal seperti visi atau pandangan, ide atau gagasan, bahkan hobi atau kegemaran. 

      Klik! merupakan tiruan bunyi tetikus yang ditekan ujung jari lalu bertransformasi menjadi kata klik. Kata klik jika diaktifkan menjadi mengeklik, jika dipasifkan menjadi diklik, dan jika diagentifkan (persona/pelaku) menjadi pengeklik. Para ahli filologi tradisional menyebut, bahwa bentuk kata yang diperoleh dari tiruan bunyi itu dinamakan onomatope. Sedangkan kalangan ahli linguistik menyebutnya simbolisme (symbolism). Senada dengan onomatope klik! ditemukan pula tak tik!, yakni tiruan suara halus detak jarum jam dinding. Jika dilafalkan secara normal seperti tak ada bedanya dengan kata taktik. Padahal taktik berarti rencana atau tindakan yang bersistem untuk mencapai tujuan; pelaksanaan strategi; siasat; muslihat (KBBI, Ct-7 1995:994). 

     Pakar linguistik Harimurti Kridalaksana mengatakan, bahwa onomatope adalah penamaan benda atau perbuatan dengan peniruan bunyi yang diasosiasikan dengan benda atau perbuatan itu. Sementara kalangan pakar semantik memandang, bahwa setiap bahasa mempunyai kata-kata onomatope. 

     Dalam bahasa Indonesia, balon atau pistol meletus dikatakan: “Dor!” Bahkan untuk balon, diabadikan pada lagu anak-anak Balonku Ada Lima. Namun, dalam khazanah kebahasaan di Amerika, onomatope “Dor!” seperti di Indonesia itu, dikatakan sebagai “Bang!”. Bunyi atau suara kucing di Indonesia disepakati meong, sementara di Inggris meow. Masih terasa kemiripannya. Seperti juga cring untuk bunyi uang koin jatuh, di Inggris menjadi pling. Bunyi gluk gluk atau glek glek untuk menandai perbuatan orang meminum air karena kehausan, berbanding mirip dengan glug

     Nama aplikasi populer Tweeter di media sosial, diambil dari akar kata tweet dalam bahasa Inggris yang berarti tiruan suara burung. Jika diindonesiakan menjadi cuit. Konten atau isi twitter lazim disebut cuitan. Namun, aplikasi populer lainnya TikTok belum begitu jelas apakah dilatarbelakangi bunyi “Tik!” dan “Tok!” atau tidak. Yang jelas, aplikasi ini berasal dari Cina buah cipta Zhang Yiming, berkonten video pendek durasi 15 detik dilengkapi musik yang bisa diunduh secara bebas. Pengunduh diberi keleluasaan untuk berkreasi menciptakan videonya sendiri. 

     Onomatope turut memperkaya perbendaharaan kata. Dalam genre drama atau pentas perpuisian, onomatope pun menambah tampilan seni tersebut terasa segar dan bernas.

 *) Editor Online, alumnus FS (kini FIB) UNDIP Semarang
 -   Sempat muncul atau dimuat pada majalah TEMPO (edisi 27 Maret 2021)

Kamis, 02 April 2020


FENOMENA ZAMAN AKHIR*

 Imron Samsuharto

Dunia kini lagi dihadapkan pada keadaan yang kian tak karuan. Kekacaubalauan menandai zaman akhir atau akhir zaman. Virus corona merebak di mana-mana, bermula dari negeri Cina terus menjalar ke seluruh dunia. Menjadi pandemi  yang menakutkan.

Kamis, 17 Oktober 2019



DIKONTRAKAN DAN DIKONTRAKKAN

Imron Samsuharto*

PEMAKAIAN suatu kata bentukan oleh pengguna bahasa dalam kehidupan sehari-hari, tak jarang menafikan asal muasal kata tersebut. Asal muasal bolehlah diartikan proses munculnya atau terjadinya kata itu. Pada kasus tertentu, permasalahan yang berkisar pada pemakaian kata bisa membawa akibat yang tak bisa dianggap sepele.